Kesaksian Lazarus dari Kematian

Ketika perban yang membalut kepala dibuka, saya tercenung menyaksikan relfeksi wujud di balik cermin, nampak tengkorak kepalaku telah dibabat. Sungguh merupakan keajaiban dapat lolos dari prosedur operasi yang sangat beresiko. “Seharusnya aku tidak hidup.”

Seumpama Lazarus yang dibangkitkan dari kematian, peristiwa yang saya alami merupakan jalan bagi manusia untuk menciptakan persaksian. Menjadi lebih maju, atau memperlambat penderitaan di bumi ini. Tidak kah kau faham?

It’s terrified!

Dokter menjelaskan, “setidaknya patut disyukuri, setelah virus parasit yang menempel pada tengkorak belakangmu sebagai inang, berhasil diangkat.”

Itu seperti bukan ungkapan selamat, namun lebih kepada menyambut monster yang baru saja dirilies. Dengan aku sebagai gantinya.

Lepas berlalu, suasana merambat sengang, meninggalkan saya terbaring menatap pancaran sinar melewati panel-panel jedela kaca nan menjulang. Beberapa masa kehadapan, akan terasa melambat, ke titik yang mana siapapun tak sanggup melalui. Dan, tetaplah tenang.

Saya adalah Lazarus di masa depan, yang bangkit demi memberi kesaksian! Pada pers rilies di lobby hotel, bersama sekian lensa camera mengabadikan catatan saya menyatakan, “kematian tidak selalu lebih buruk dari hidup itu sendiri.”

 

***

Dalam hening, tinggal lah saya kemudian, sendiri menetap di balik dinding-dinding glass tower pencakar langit, seumpama capsul kaca yang memisah kehidupan dari subtansinya, terisolasi. Demikian kesaksian, bilamana hidup adalah tujuan demi menafikan fakta kematian.

 

Advertisements

Heartbreak Hotel

Benar, saat ini aku memang sedang menghindar pun menjaga jarak darimu, Al. Itu aku lakukan demi kebaikan semua. Lebih banyak ketidaksefahaman di antara kita, dan aku tidak ingin hal itu menjadi perkara ke hadapan.

Maaf, mungkin apa yang akan kukatakan ini menyakitkan. Namun jujur kukatakan, sepertinya aku tidak melihat hubungan ini cukup berharga dipertahankan.

Sementara kita bersama, namun arah yang nak kita tempuh berbeza. Sudah cukup buang waktu berusaha beramah-tamah, dan menunjukan sikap sewajar mungkin. Sudah tidak ada lagi saling mengindahkan di antara kita!

Selebihnya, seraya kau melabuhkan diri ke dekat tubuhku terkulai di atas peraduan, mendekat dan menyentuh kening yang terbaring di atas bantal-bantal, kau hanya menjelaskan, “bukan aku menghilang darimu, tapi memang aku tidak pernah dianggap ada olehmu, Freya.”

Ah kalimat itu, lebih tepat ditujukan kepada dirimu sendiri, Al! Seraya aku membatin, dan melayangkan gerakan tangan menyentuh dagunya yang kian dekat, merambat hingga ke bagian tubuhnya bertelanjang dada.

Mengapa? Karena kau tidak menginginkannya. Ya, tapi kau terlalu iba untuk tega mengatakan, “tak ada yang istimewa di antara kau dan aku.” Bahkan tidak ada kita di antara kau dan aku, Al.

Sudah diprediksi dari awal mula hubungan kita, semua tentang prestise, harkat dan martabat latar belakang kita yang berbeza, namun hasrat manusiawi kita kadung seirama dalam satu harmoni kenikmatan ragawai.

Katakan padaku, Al! “Kau hanya ingin mundur teratur, itu hal sederhana yang dapat dipahami sementara ini, ya kan?”

Kita telah tinggal besama dalam satu atap, beberapa masa yang telah lewat itu. Bercengkrama, bercinta sebagaimana naluri kehendak lelaki terhadap wanita, pun ditanggapi serupa. Kau, baik aku pun sama-sama menilai hubungan ini jahanam. Tak terbesit sebelumnya akan menuju ke perasaan mendalam, semisal membina cinta.

“Kau berkata seolah kau tidak mengenal dirimu, Freya.”

Kalimat itu membuatku tercekat! Tega ia berkata demikian setelah aku menunjukan bagian terdalam dan rapuh akan perasaanku padamu, seolah aku perempuan murahan di hadapan lelaki tangguh seperti dirimu, sosok yang hanya ditaklukan demi sebuah kesenangan.

Dan, sepertinya memang demikian. Aku merasa kotor, dan murahan, seolah tengah bersimpuh ke hadapanmu demi menghiba suatu pengharapan, menjadi milikmu seorang. Apakah kejadiannya sampai sehina itu?

Sedari mula, memang hubungan ini tidak berdasar pada norma atau adab yang patut dalam menjalin suatu hubungan. Kami bertemu di suatu club, kau mendatangiku dan menggoda, lalu terjadi perbincangan sepanjang malam dan berakhir di peraduan suite room hotel.

Kau cukup menyenangkan saat itu. Seluruh representasimu menunjukan betapa kau lelaki memikat, patut didapatkan, walau dengan cara-cara yang mungkin kurang terhormat, hingga dapat menilai diriku rendah sebagai perempuan di mata lelaki yang masih memandang nilai-nilai konservatif.

Awalnya, aku mengira akhir dari semua ini hanya menyisakan heartbreak hotel, hubungan semalam, namun tiba-tiba peristiwa demi peristiwa, kau mendampingiku ke acaraku pun sebaliknya, berlanjut dan berlanjut. Hingga aku memahami ini bukan sebatas melepas kesenangan, namun di dalamnya ada kebersamaan, moment intim yang selama ini dirindukan satu sama lain sebagai mana kodrat insan manusiawi. “Menjadi untuh oleh satu sama lain.” Itu yang aku takutkan.

Bilamana aku bertahan dengan kesilafan ini, ke depan kelak mungkin aku akan patah hati, di saat aku telah terikat, aku tak sanggup kehilangan sesuatu yang dianggap telah menjadi milikku. Sebelum semua itu terjadi, sudah seharusnya diakhiri.

“Aku tidak menilaimu seperti itu, Freya. Kau hanya sedang menyiksa diri.” Kilahmu, namun kau terlalu sibuk dengan pekerjaanmu yang tak melibatkan aku di dalamnya, duniamu, dunia seorang lelaki pada umumnya. Walau sepenuhnya dipahami memang seperti itu lah seharusnya.

Namun, kekhawatiran akan hubungan ini bersamamu, lelaki. Adalah betapa aku menyadari kebersamaan kita rapuh sangat. Sekedar menyandarkan pada kesenangan ragawi, “seperti aku tak bernilai bagimu.”

Sebagai lelaki yang mengendalikan hubungan, kau mungkin tak ambil pusing dengan kegundahan perasaanku ini. Tak mengerti betapa aku kehilangan kepercayaan diri untuk  tetap mempertahankan hubungan ini, dan mengapa aku begitu peduli akan pandanganmu terhadapku, Al.

Semalam lalu aku menangis, saat kau tak pulang. Baru larut malam aku terpulas lalu mendapatimu di sisiku, telah lelap.

Oh Al, tahu kah kamu? Betapa bahagia saat terjaga mendapati dirimu di sisiku.

“Mengapa tiba-tiba kau merasa insecure, Freya?” Kata-katamu membuatku tercenung, mengakui  betapa hal yang mesti kumiliki untuk merasa berharga bagi pria, sudah tak ada.

“Apakah aku peduli dengan kesucian diriku di hadapan lelaki sepertimu. Pribadi moderat yang tak mengindahkan norma konservatif bahwa perempuan semestinya suci, sebelum dilabuhkan bersama tubuhnya di atas peraduan persenggamaan ragawi.”

Apakah lelaki juga membutuhkan jiwa seorang wanita, selain raganya? “Mungkin.” Jawabmu! Lelaki butuh harkat yang bisa membuat mereka menegakan kepala, sebagai pribadi yang utuh dan terhormat.

Sepenuhnya aku memahami masih tetanam nilai-nilai konservatif dalam benak tiap lelaki sebagai kehormatan dirinya, namun kah akan mempengaruhi cinta? Semua pertanyaan itu mebingungkan, dan hanya membuatku kehilangan arah.

Sepekan kemudian, telah tuntas keputusan mengembalikan kunci apartemen yang telah kau serahkan padaku sebagai bentuk komitment yang pernah kita buat untuk tinggal bersama.

“Tapi mengapa?” Kau bertanya setengah menghiba, ketika tiba-tiba hadir di depan beranda rumah Sahabatku, Malinda yang mana sementara waktu aku tinggal bersamanya.  Paska meninggalkan kediaman Al.

“Aku tidak bisa, Al!” Titik air berlinang jatuh, saat aku harus berbalik membalikan punggung darimu di ambang pintu.

Langit senja tergulung mega-mega hitam, saat hujan jatuh bergemuruh, wujud jangkungmu keluar dari kendaraan yang terparkir di depan halaman, melangkah di bawah naungan payung, menyampak ke beranda, untuk menjemput aku dari kediaman Malinda. Namun kau harus kembali tanpa aku bersertamu, Al.

***

Saat Malinda menanggapi permasalahan antara aku dan Al, kami duduk di sofa dekat jendela ketika hujan deras jatuh di luar sana. Ia berkata, “tak seharusnya kau bersikap demikian terhadap Al, Freya. Lelaki itu hanya bersikap pragmatis, dan tidak cukup pengetahuan asmara untuk membuatmu merasa berharga pula dicintai, serupa aktor di drama-drama televisi.”

Maksudnya, Malinda menjelaskan, “berbeda denganku sebagai wanita karier yang mengklaim dirinya independent, aku tidak dipusingkan masalah relationships. Tapi memang ada sebagian wanita yang memang hidup bagi pria, contohnya kau.”

Maksudnya, aku tidak bisa hidup tanpa pria, Malinda? “Akuilah, dan berkompromi. Aku tidak anti pria, Freya. Tapi menjadi bagian dari hidup pria, sebagai wanita yang menaruh harapan terhadap salah satu dari mereka, kau harus berkompromi, bahwa sesungguhnya kita berbeza. Dan perbezaan itu menyatukan dua hal yang tak serupa, Freya.”

“Bagaimana kau berfikir aku mesti menelphon dan memintanya menjemputku, Malinda?”

Malinda tergelak, dan merampas cangkir kopi di atas meja, meneguknya. “Kau berfikir tentang harga dirimu. Sikapmu sekedar menunjukan betapa kau harus diperjuangkan, betapa kau mesti selalu ada dalam benaknya setiap saat. Lelaki punya dunianya sendiri, sebagaimana kita. Suatu dunia yang mungkin tak ingin kita turut di dalamnya. Namun bukan berarti mentiadakan sebagian dunianya yang lain, yaitu sisi dunia bersama wanita yang diingini olehnya.”

Betapa aku ingin memahami seluruh ucapan Malinda, namun aku terlalu letih lahir-bathin, hingga tak sanggup bangkit dari peraduan.

“Itu akan membuatmu jatuh sakit, Freya. Makanlah sesuatu, aku membawakan makanan untukmu.” Kata Malinda, saat mendapati diriku tak sanggup lagi bangkit dari peraduan, selebihnya aku tak ingat lagi ketika sahabat perempuanku itu  menghubungi nomor selular.

***

Gelak tawa terdengar riang di pagi terang, aku bangkit dari peraduan mendengar suara lelaki yang aku hafal benar besama suara sahabatku, Malinda.

Aku mendapati mereka sedang memasak di dapur, bersama ketika aku melangkah tiba di sana, menyaksikan keduanya nampak akrab. Seketika, suasana beku, namun tak lepas senyum tersungging di wajah dan mata binar Al, saat mendapatiku menghampiri mereka. “Ini mungkin kejutan.”

“Syukur kau sudah bangun, Malinda.” Sahut Sahabatku, seraya melayangkan pandangan ke arahku, lalu menatap Al, lalu mohon diri meninggalkan kami. “Menurutku kalian harus bicara.” Malinda berlalu.

Satu kursi ditarik Al, menuntunku duduk padanya, “aku telah memasak sesuatu untukmu.” Katanya.

“Aku baik-baik saja, Al.” Sambutku, “terimakasih kepada kalian, tapi kau tak harus berbuat ini. Mengapa Malinda mengijinkanmu berada di sini?”

“Mengapa tidak?” Sahut Al. “Memangnya dia tahu kita bertengkar?”

Bertengkar, aku ingin tergelak bila situasinya memungkinkan, tapi tidak saat ini. Pertanyaannya adalah, “Mengapa kau meninggalkan aku, Freya?” Tandas Al.

Entah aku harus ngomong apa, dan hanya menatapnya. Tangan Al begerak merain gengaman tanganku ke dalam genggaman tanganya, saat dibuka sebentuk cincin tertera di baliknya. “Menikahlah denganku.”

Peristiwa singkat dan sangat tiba-tiba, aku terkesima, sehingga tiada kata-kata terucap menanggapi pinangan Al di moment itu. “Aku mencintaimu, dan sudah seharusnya mengetahui kegelisahanmu, Freya.”

Tidak perlu kata-kata, air mata yang terjatuh saat itu sudah mewakili untuk menyatakan kesedian akan pengajuan Al menyandingku dalam hidupnya. Sebagaimana pernah Malinda ucapkan sepanjang ia menyertaiku dalam hal ini, “jangan takut, Freya. Kau hanya perlu merasa berharga untuk dicintai. Dan itu yang akan membuatmu aman untuk dicintai olehnya.”

“Maafkan aku, Freya. Sejauh hubungan kita, aku telah alfa untuk mengerti kegelisahanmu, dan rasa tidak aman dalam menjalin hubungan bersamaku. Freya, percayalah, bila kau merasa tidak aman dalam hubungan ini, sementara aku mengaku mencintamu, sungguh kejam bila membiarkanmu tanpa aku.”

Lebih jauh Malinda pada suatu kesempatan menjelaskan, “Al itu lelaki, Freya! Meski mungkin tidak menghormati perempuan yang dengan mudah diajak ke atas ranjang buat bercinta, walau diajak oleh dirinya sendiri. Tapi perempuan adalah harga diri bagi lelaki yang tak boleh dimiliki lelaki lainnya. Mereka bertarung, dan itu yang tidak kau pahami. Percayalah, Freya. Dimiliki adalah cara memiliki seorang pria. Biarkan ia merasa memiliki, dan kau akan memiliki seluruh dunianya.”

Tentu saja, dengan sesuatu yang dianggap menggelikan bagi Malinda sahabatku, “cinta.”

#EnRaga

 

Monnalisa

Di mana dan ke mana kakimu nak melangkah, ke tempat tiada aku di sana, sayang. Telah pun pupus segala apa yang telah terbina di masa berlalu. Aku tiada lagi berada dekat sana.

Hummh, barangkali telah tergantikan sesiapa, tak ada aku tahu mengenai itu, sayang. Sempat kau berkata, tiada lagi selain aku, namun nyatanya aku tak beroleh kepercayaan akan peneguhanmu terhadapku.

Di tubir karang pantai, pada naungan gazebo yang di bina dekat sana, tempat di mana kita bersua dulu. Masih terkenang kemesraan dan cengkrama di antara kau dan aku. Langit dan bumi menjadi saksi, kau di sisiku selamanya. Itu katamu.

Sesungguhnya aku sadar sejak di mula, dan bukan anak kemarin sore pula, bila harus percaya dengan kata-kata pengharapan yang tak sepenuhnya benar-benar nyata.

Pada project pemotretan pariwara suatu produk, kita dipertemukan ulang, nyaris dejavu. Kau tentunya tampil dengan segala atribut glamor nan elegan, melangkah ke dalam loby hotel dan besertamu melekat atribut branded, mempertontakan prestise.

“Ragan? Maksudnya, tuan Regan.” Sapamu tergeragap berjabat tangan, lalu duduk di antara para eksekutif, salah satunya aku, dan tentu saja… aku biasa saja dengan segala kebersahajaan seorang eksekutif mengenakan setelan berdasi, tampil prima dan profesional.

Jangan beranggapan aku tak menyadari bahwa aku, tampan. Masih tampan di balik lensa glasses penuh pecaya diri menatapmu sebagai partner ambasador dari perusahaan yang aku wakili, kendati kau hadir dalam tampilan paling cemerlang sebagai bintang.

Permbicaraan formal pun berlangsung, alot dan santai, membosankan. “Intinya tentu saja, kami masih mempercayakan Miss. Monnalisa sebagai ambasador produk yang kami launching selama ini.”

Tanda tanganmu dibubuhkan pada selembar kertas kontrak, matamu sedikit memicing, mengintip di balik bulu matamu yang entah kau gubah semacam apa, hingga selalu nampak memesona bagi siapapun. Artifisial, namun memabukan.

Jangan berpikir demikian pun aku kepadamu, Miss. Aku bukan aku yang dulu,  lelaki yang dengan mudah terjerat dan terpedaya kesekian kali, sebagaimana anggapan perempuan-perempuan sejenis engkau itu.

Matamu mengintip, seolah berkata, “termasuk kontrak kesepakatan tidur bersama?” Ah, halu-halusinasi. Dua batin kami berdialog, di sela percakapan formal mengenai hal yang menyangkut bidang profesional di antara orang-orang management lainnya.

Namun kutegaskan, tidak ada kesepakatan atau hal semacam yang kau maksud tersebut turut dalam kesepakatan kontrak. Tidak, dan tidak pernah terjadi, sebelum maupun sesudah ini.

Nak aku tergaskan satu perkara kepadamu, “project yang kuserahkan pada management anda, Miss Monnalisa. Itu karena pengaruh prestise anda, dan percaya management anda profesional.” Sesungguhnya jauh di balik itu, aku tidak terlibat akan keterlibatanmu dalam project brand ambasador ini. Sepenuhnya merupakan kerja management di bawahku.

Sungguh bila aku punya sedikit saja citarasa art saja, atau setidaknya punya kewenangan membuat keputusan, “kau orang terakhir yang akan saya pilih.” Tepatnya, aku tidak menginginkanmu!

Apakah sikapku ini menunjukan prilaku marah akan persoalan yang telah lalu? Sama sekali tidak! Bukan penyangkalan, tapi iya! Kau sama sekali tidak lagi mengesankan bagiku. Tiada obsesi sebagaimana dulu aku dungu, jatuh ke dalam pelukanmu yang memabukan, dan memujamu hingga tercampak.

Lagi pun, sebagaimana lelaki pada umumnya, tentu saja terpikat kepada lawan jenis, mahluk indah sebagaimana rupamu, Miss. Monnalisa. Cantik, anggun, memesona lelaki manapun iya, aku rasa. Wajar bukan?

“Ah, Regan! Kau hanya ego sentri! Tak sudi mengakui pernah bodoh, dan jatuh cinta!” Seolah kalimat itu meluncur demikian adanya, saat kami melangkah di koridor hotel, menyertaimu ke suitroom sebagai fasilitas akomodasi selama kau melaksanakan project kerja.

Kalimat itu tidak pernah benar-benar terucap, sungguh! Tapi aku seolah mendengar secara jernih, saat kau melangkahkan kaki jenjang indahmu mengenakan heel, bergemeletak di atas karpet suitroom, saat tanganku membukakan ruang bagimu, Miss. Lalu …

Lalu langkahmu mendekat, sangat pelan lebih dekat pada jarak wujudku berdiri mematung dibingkai panel-panel jendela suitroom yang menjulang bertirai putih, terkesan kaku. Kau tetap kalem, menatap sambil menenglengkan leher jenjang indah. Tatapan bola matamu menghujam ke balik kornea mataku di balik view glasses.

Kau dan aku seolah terhubung dialog telepati yang terus berlangsung tak kentara zahir. Sudut emosi manusia memang selalu lebih maju dari kemampuan mereka menciptakan teknologi, semisal smartphone berikut signal yang menjalar dalam dimensi either.

Namun, “bukankah komunikasi tingkat tinggi itu tak mengharuskan suara berupa kata-kata, Regan? Hummm, …” Getaran emosi sudah menghantar signal-signal komunikasi yang menstimulan saraf yang menjalar dalam susunan tubuh manusia, merambat saling menyampaikan informasi, entah itu ketertarikan atau kebencian.

Bukan tidak ada kata-kata sama sekali, secara harfiah tentu kami berbicara umumnya orang wajar, namun normatif. Sekedar basa-basi tak bermakna, demi menyatakan bahwa kami benar-benar hadir secara harfiah.

Dua pekan ke depan, mungkin masa bergulir terasa melamban, lambat dan lama kala pagi menjelang, aku melangkah mengenakan underpants ke balkon suitrom hotel yang menghadap bentangan landscape pantai Phuket berpasir putih membentang diiring debur ombak bergejaran, menyambut di kejauhan sana.

Kudengar hari ini kau berulah, lewat informasi yang kudapat dari management di lokasi pemotretan, menghubungi via ponsel.

“Bilang pada Monnalisa, saya akan berbicara dengannya pada sarapan pagi ini bersamanya, siapkan reservasi, terimakasih.”

Tiba-tiba kau datang, menerabas masuk ke dalam suitroom, untuk memuntahkan tekanan selama proses project, dan aku lapar, sangat lapar, “sehingga aku sanggup menelanmu hidup-hidup, Regan.”

Ada apa denganmu, Regan? Aku sangat putus asa, sementara kau masih pura-pura, maka ia cengkramkan cakarnya kepundakku, merenggut wajahku dan menghujamkan ciuman, sehingga aku tersentak dan mengenyahkan prilakunya terhadapku, “Monnalisa! Demi Tuhan!”

Sekejap aku ternganga, namun bukan berarti tidak memahami situasinya, bahwa kami tengah berada dalam lingkaran tekanan batin, sama-sama saling menyaksikan sesuatu yang diminati, namun tak terjangkau, atau sama-sama menahan diri, tepatnya bilang masih ingin dikatakan manusia terhormat. “Dan aku sudah tidak tahan lagi, kau…”

“Ya, kau dengan segala kepura-puraan itu menyiksaku, Regan!” Dan saat ini aku siap berdosa demi menebus dendam kerinduan, kami tiba di situasi porak-poranda dari pertahanan.

Tidak, menjauhlah dariku! Itu kata hatiku, namun kubiarkan diri ini jatuh, terkulai di atas peraduan, menelentangkan tubuh, hingga dengan itu ia naik menunggang di atas pinggangku, dan menanggalkan satu-satunya pertahanan yang masih melekat di tubuh, underpants. Dalam satu kali ciuman membara, penetrasi berlangsung cointus.

Tubuh tak ubah tersengat stimulan gairah hasrat terbalaskan, kau memperlakukan tubuh beserta otot-otot di balik permukaan kulitku bak berhala agung yang kau sembah secara pagan.

Dan, sepertinya aku berdosa akan sesuatu yang masih melingkar di jari manisku, sumpah setia di depan altar sebagai pendamping yang sepatutnya. “Bagaimana bila semua ini semu dan ilusi, Monnalisa?”

“Jangan bodoh,” Sahutnuya dipuncak orgasme, memekik dan meliuk di antara cengkraman otot-otot tubuhku, merayapi lekak-lekuk tubuhnya yang menggelinjang dikenai pancaran klimaks, “aku memang sepenuhnya bukan hal nyata. Maaf, maksudnya aku memang tak lebih fantasimu, Regan Farma.”

Daya energiku tekuras dihisap bunga pemakan daging yang tumbuh di pedalaman hutan Amazon, kuat menarik tubuh ini telanjang di sisinya. Menyesap sisa-sisa udara, memulihkan raga semaput dirampas alam bawah sadar.

Pada malam berikutnya, berat sekali aku harus mengatakan di acara makan malam terakhir project yang kami kerjakan, “aku…”

“Jangan bodoh, Regan!” Mungkin secara tersirat, ia nak menyatakan sepanjang mula pertemuan hingga di malam terakhir kami harus kembali ke negara masing-masing, “kau tidak pernah menanggalkannya dari jari manismu. Benar-benar pria yang manis.”

Serentak aku menarik tanganku di atas meja, menyembunyikan lingkaran cicin pernikahan yang melingkari jani manisku. Mungkin berat badanku sedikit agak bertambah, sehingga benda itu macet di jariku yang sudah sesak lemak, “percayalah kau masih menarik seperti pertama kali kita bertemu, dan melakukan kesilafan demi cinta yang tidak pernah kita tahu maknanya.” Senyum Monnalisa menyiratkan semua pemahaman itu.

“Sudah kubilang, aku bukan seperti yang kau kenal dulu, Monnalisa.” Dan pernahkah aku bertanya, mengapa ia kemari, menjumpaiku di sela jadwal syuting padat lalu memilih project yang bisa ia tolak demi tawaran yang lebih dari pada perusahaan yang kuwakili?

Karena? Ya, itu karena… akut idak mau melanjutkan cara berfikir kelewat percaya diri, bahwa. “Aku masih menginginkanmu, Regan.”

“Ya?”

“Menginginkanmu tetap membuatku menjadi imajinasimu,” lalu ia berdiri beranjak pamit dari kursi meja makan kami meninggalkan ruang, sesaat melenggok seolah melontarkan ucapan, demikian caraku membuatku akan tetap terkenang dalam hidupmu, Regan.

Maksudanya? “Menyiksamu dalam fantasi yang terus berulang dan berulang.”

Mengapa?

“Karena kau lemah, Regan! Seharusnya kau menahanku pergi, saat aku terlalu dibutakan ambisi menjadi supermodel, tapi kau… ya kau! Kau membiarkan aku pergi, dengan kedunguan menjadi bintang dan kehilangan segalanya.”

“Kau tidak kehilanganku!”

“Kau kehilangan keutuhan dalam dirimu, meminatiku dalam angan-angan yang kau terlalu lemah untuk mencapainya. Maka kenanglah aku sebagai fantasimu, yang mana seharusnya aku nyata bagimu.”

Selamat tinggal, dan sampai jumpa sayangku, lelakiku yang telah membuatku cukup berterimakasih telah menjadi fantasi dalam hidupmu, sayang.

Sejenak kemudian kuangkat gelas mineral, meneguknya dan terasa kemudian, resto terasa lengang, pula senyap di telan keheningan.

Pesawat nomor satu segera menerbangkanku ke Kuala Lumpur. Dimensi lekas berganti meretas realita, lekas pun aku tiba di rumah, sebagai suami dan ayah bagi anak istriku.

“Anak keduaku segera lahir,” demikian bila ada acara berkumpul bersama teman-teman sejawat di cafe atau resto selama berehat dari berjabat. “Magdalena adalah istri yang baik dan cantik, ibu yang melahirkan anak-anakku.”

“Senang menyimak kisah bahagia keluargamu, Regan.” Ujar Fazwan sahabat sejawat, ketika aku berbincang bersama di sebuah kafe. Lelaki itu datang bersama istrinya yang sedang mengandung putra pertama.

Selularku bergetar, dari istriku. “Maaf, saat ini Magdalena tidak bisa dinggal terlalu lama, tak lama lagi akan melahirkan putraku yang kedua.”

Saat berkendara selama perjalanan pulang, pada lintasan flyover, nampak kemudian bilboard terpampang megah di ujung jalan, wajahmu nampak cemerlang sebagai bintang yang tinggi, anggung dan bersar, lalu teringat ucapan terakhir yang entah diucapakan olehnya atau sebatas ilusi mampir di benakku.

“Aku adalah fantasi, yang hanya terjangkau dalam benakmu, Regan.” Seharusnya aku lebih berani, bukan jadi pencoleng yang mecolong bintang dan terlalu takut untuk jatuh, sehingga menipu penghuni rumah, kakiku pincang karena jatuh terperosok berjalan tak hati-hati.

“Mama menyayangi papa,” Sambut Magdalena menciumku, saat tubuh ini kurebahkan, dan ia meletakan sisi kepalanya di atas dadaku, dan kukecup ubun-ubun rambutnya bergelambang.

***

Selaksa embun, menguap di pagi hari, hilang lenyap, disengat mentari. Kau… kau.. lepas sayang. Dan bagi seorang lelaki,  apa yang melekat bersamanya adalah seuatu yang real baginya.

Bukan angan-angan. “Aku tidak ingin menyiksa diri, Monnalisa!”

“Kau hanya lelaki baik, Regan. Yang tergoda bertindak nakal, demi menguji dirinya. Bila pun kau memilikiku Regan, kau tak punya cukup kepercayaan diri untuk tetap menaklukanku.”

Aku terdiam, bayanganku tetap bersamanya, selama bayangan itu tak geming, kuberikan diriku pada penguasaan istriku, meberi sesuatu yang menjadi kewajiban suami terhadap kebutuhan batin istrinya.

“Biar kuberi tahu mengapa kau memilih Magdalena, wanita sempurna hanya karena sederhana?”

“Apa?”

“Karena sebatas Magdalena kepercayaan dirimu sebagai pria. Kau anggap aku sebagai mainan nakalmu, tapi kau tetap ingin shalih bersama wanita yang sebetulnya kau anggap tak lebih payah darimu untuk sekedar dikuasai.” Monnalisa menghinaku, tepat di bagianku sebagai lelaki.

Sekilas kemudian, kepuasan Magdalena yang tanpa batas hadir dengan penghiburannya, bahwa; “kau selalu cukup bagiku, sayang.” Rasa syukur itu selalu mengembalikanku sebagai lelaki seutuhnya.

Maafkan istriku, aku tak terlalu cukup baik buatmu, namun begitulah sisi kehidupan seorang lelaki, seorang suami di sudut terkelam yang sebaiknya kau tak harus tahu demi kedamaian hidupmu.

Nak kutegaskan kepadamu, Istriku Magdalena. “Tak akan kutukar apapun demi selain dirimu. Maaf bila diriku tak suci bagimu, namun ketulusanku mencinta dan melindungimu sebagai lelaki, adalah prioritas.

Malam berlalu bersama hening malam, dan hawa dingin imbas aphelion cuaca, tirai mengambang tertebuk angin, dan hening.

#EnRaga